TNI Percepat Vaksinasi di Papua

By

*Pemerintah Waspadai Varian MU

JAKARTA-TNI menerbangkan Satuan Tugas (Satgas) Vaksinasi Covid-19 Papua menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono melepas keberangkatan satgas tersebut di Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Tidak kurang 81 orang memperkuat satgas tersebut. ”Dari Angkatan Laut ada 50 (personel), kemudian dari IPDN ada 20, yang lainnya relawan,” terang dia.

Sesuai arahan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, satgas itu akan melakukan vaksinasi di tiga daerah di Papua. Yakni Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan Kabupaten Keerom. Menurut Yudo, pihaknya mengirim satgas dari Jakarta untuk memperkuat tim yang sudah ada di Papua. Di sana mereka akan bekerja sama. ”Dengan perkuatan (dari Jakarta) diharapkan bisa lebih cepat lagi kami laksanakan serbuan vaksinasi,” terang dia.

Kepada seluruh tim yang ikut ambil bagian dalam satgas itu, Yudo meminta mereka untuk selalu melibatkan masyarakat setempat dalam pelaksanaan vaksinasi. Baik tokoh agama, tokoh masyarakat, maupun tokoh pemuda. Dengan begitu, dia optimistis capaian vaksinasi di Papua dapat meningkat drastis. Berdasar laporan yang diterima oleh TNI AL, sampai kemarin persentase vaksinasi di sana masih berada pada angka 15 persen. Angka tersebut dinilai masih rendah. 

Untuk itu, perlu akselerasi agar persentase vaksinasi di sana naik. Apalagi, Presiden Joko Widodo menginginkan supaya target vaksinasi di Papua tercapai bulan ini. ”Kalau bisa target sejuta (suntikan vaksin) kami upayakan,” tegas Yudo. Pria yang pernah bertugas sebagai panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) I itu menyatakan, Papua juga akan melaksanakan event besar bulan depan. Yakni PON XX Papua. 

Pemerintah ingin event tersebut berjalan lancar. Karena itu, Satgas Vaksinasi Covid-19 Papua juga diperintahkan untuk membantu persiapan penyelenggaraan PON XX Papua. Mereka bertugas memastikan seluruh peserta dan penyelenggara PON XX Papua sudah divaksin. ”Jadi, saat PON (berlangsung) semua bisa bekerja dengan baik. Tidak terganggu lagi dengan Covid-19,” harapnya. Tugas satgas yang dilepas oleh Yudo kemarin memang tidak mudah. Namun dia yakin mereka dapat melaksanakannya. 

Mengingat TNI, Polri, Pemerintah Daerah (Pemda) Papua, dan instansi lainnya juga sudah menyiapkan langkah-langkah strategis. Untuk menambah kekuatan personel di Papua, TNI AL juga mengirim KRI dr Soeharso-990 dari Markas Komando Armada (Koarmada) II di Surabaya. Dalam waktu dua hari, kapal bantu rumah sakit itu diperkirakan sudah sandar di Papua. ”Bisa untuk tempat evakuasi medis apabila terjadi sesuatu,” imbuh Yudo. 

Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan tantangan utama pelaksanaan vaksinasi adalah ketersediaan vaksinator. Kegiatan vaksinasi tidak bisa mengandalkan tenaga kesehatan yang ada di dinas kesehatan daerah. Tetapi juga melibatkan elemen lain seperti TNI, Polri, dan lainnya. Dia mencontohkan kegiatan vaksinasi Covid-19 di kampus Universitas Indonesia (UI) melibatkan alumni sebagai vaksinator.

Ma’ruf menyampaikan terus berupaya mencukupi jumlah vaksin Covid-19. Khususnya untuk menuntaskan target suntikan kedua bagi masyarakat yang sudah mendapatkan dosis pertama. Dia berharap pemerintah masih menargetkan vaksinasi Covid-19 selesai pada akhir Desember tahun ini. ’’Tetapi kita lihat nanti,’’ katanya saat melakukan peninjauan pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) di sejumlah sekolah di Jakarta kemarin.

Menurut Ma’ruf saat ini tren suntikan vaksin Covid-19 semakin membaik. Rata-rata sudah di atas sejuta dosis suntikan setiap harinya. Sebelumnya masih sering di bawah sejuta suntikan setiap harinya. Dia mengatakan pemerintah mengejar suntikan vaksin sebanyak dua juta dosis setiap harinya. Sehingga target vaksinasi untuk 200 juta lebih masyarakat bisa secepatnya tercapai.

Sementara itu, pemerintah terus meningkatkan pengawasan di pintu baik Bandara maupun Pelabuhan laut untuk mencegah masuknya virus COVID-19 varian Mu ke tanah air dengan meningkatkan pengawasan di seluruh area pintu masuk ke Indonesia dari luar negeri. 

“Semua ini dilakukan agar Indonesia tidak mengalami gelombang ketiga COVID-19,” ujar Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate kemarin. 

Selain itu, kata Johnny setiap WNI ataupun WNA yang masuk dari negara yang memiliki riwayat perjalanan ke negara-negara dengan tingkat penyebaran Varian Mu tinggi seperti Kolombia, Jepang, India, Hongkong, Ekuador diperiksa secara ketat. 

Selain tes Covid-19, sampel yang diambil juga akan dites dengan whole genome sequencing (WGS) untuk memastikan agar pergerakan varian virus terdeteksi. Plate mengatakan, per Senin, 6 September 2021, Varian Mu telah ditemukan di 46 negara. ”Namun varian ini belum ditemukan di negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia,” jelas Plate. 

Hingga kini, lanjut Plate, WHO masih mengkategorikan Varian Mu sebagai Variant of Interest (Vol) atau varian yang perlu kajian lebih lanjut terkait dampak dalam penularan dan tingkat laju penularannya. Menkominfo juga menyebutkan bahwa pemerintah mendorong seluruh pemangku kebijakan di daerah untuk mendukung pemeriksaan whole genome sequencing dengan mengirimkan sampel. Hal ini dilakukan untuk mempercepat proses analisis dan pemeriksaan. 

Selain itu, penting juga bagi masyarakat agar tidak terjebak euforia penurunan kasus harian COVID-19 dan pembukaan di beberapa sektor secara gradual, karena potensi masuknya varian baru tetap ada.

Sejauh ini tren kasus konfirmasi, perawatan dan kematian akibat dari Covid-19 dilaporkan terus menurun. Namun, tak lantas bisa bersikap tenang. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menuturkan bahwa saat ada penurunan kasus ini menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat ketahanan medis. 

Dante menyatakan di beberapa daerah masih terdapat infrastruktur medis yang masih minim. Hal ini bisa sebagai antisipasi apabila terjadi gelombang kenaikan kasus. Dia mengingatkan di beberapa negara ASEAN seperti Malaysia, Filipina dan Vietnam masih mencatatkan kenaikan kasus yang tinggi. Bahkan, kenaikan kasus juga dialami oleh negara-negara cakupan vaksinasinya tinggi seperti di Amerika Serikat, Inggris dan Israel.

Selain itu penguatan ketahanan medis ini juga diharapkan sebagai bentuk pemerataan pelayanan kesehatan.”Inilah saatnya kita melakukan penguatan terhadap ketahanan medis,” tuturnya. 

Upaya lainnya adalah tidak mengendorkan protokol kesehatan. Menurutnya, beberapa negara yang kembali mengalami lonjakan kasus karena mulai menurunnya ketaatan dalam menjalankan protokol kesehatan,. Selain merasa sudah dilakukan vaksinasi.

Dante kembali menekankan bahwa vaksinasi bukan merupakan game changer tetapi merupakan salah satu komponen yang penting untuk dilakukan. ”Vaksinasi bukan satu-satunya untuk mengatasi pandemic,’ ujarnya. Vaksinasi harus berjalan beriringan dengan peningkatan tes epidemologi, peningkatan rasio kontak erat yang dilacak, serta pengetatan protokol kesehatan. 

“Protokol kesehatan tidak boleh abai, protokol kesehatan merupakan salah satu faktor penentu apakah kasus ini akan meningkat atau tidak dimasa yang akan datang,” imbuhnya. Dia berharap penurunan kasus Covid-19 di Indonesia selalu konsisten. Sehingga pandemic bisa menjadi endemi apabila penurunan kasusnya sudah semakin baik. (syn/tau/lyn/wan/JPG)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: