Tumbuh Subur Lagi setelah Ditanam Para Sahabat Bung Karno

By

Ende, Soekarno, Pancasila, dan Pohon Sukun Penerus

Pohon sukun tempat Soekarno duduk, menghadap pantai, sembari merenungkan nilai-nilai Pancasila sudah berganti pohon sukun berbatang lima. Nocent W. Doi yang mengumpulkan cerita dan bukti terkait dengan Soekarno selama berada di Ende menuturkannya dalam perayaan hari ini yang dihadiri Presiden Jokowi.

FERLYNDA PUTRI, Jakarta

TINGGI pohon sukun itu sekitar 10 meter. Daunnya cukup banyak. Dan, di sekitarnya, tak ada pohon sejenis lain.

”Jika duduk di bawahnya, menghadap laut itu enak sekali,” kata Nocent W. Doi, staf Dinas Pariwisata Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), saat dihubungi Jawa Pos Senin (30/5).

Tepat di titik lokasi yang sama, Soekarno pernah menyebut, ”Di bawah pohon sukun ini kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila.” Itulah yang disampaikan Soekarno dalam pidato yang berapi-api di hadapan ribuan warga Ende yang memadati Lapangan Pancasila saat kembali untuk kali pertama ke kabupaten di Pulau Flores tersebut. Persisnya 12 tahun setelah meninggalkan Ende setelah empat tahun tinggal di sana sebagai interniran alias tahanan politik pemerintah kolonial Belanda.

Dalam kesempatan itu, menurut Nocent, Soekarno juga berpesan untuk menjaga pohon sukun tersebut. Jika suatu saat pohon itu mati, dia minta ditanam pohon yang baru. Pada 1972, tanpa diketahui sebab pastinya, pohon sukun itu mati. Penduduk pun memenuhi wasiat sang proklamator kemerdekaan. Ditanamlah satu pohon sukun. Namun, pohon itu mati lagi. Tak bertahan lama.

”Ketika masa kepemimpinan Bupati H.J. Gadi Djou, beliau meminta sahabat-sahabat Bung Karno di Ende untuk menanam kembali pohon sukun baru. Peristiwa penanaman kembali pohon sukun baru itu terjadi pada 17 Agustus 1980. Dan, pohon sukun tersebut tumbuh subur hingga saat ini,” jelasnya.

Nocent yang merupakan mantan wartawan sudah mengumpulkan cerita dan bukti sejarah Soekarno di Ende. Dia mewawancarari satu per satu sahabat atau keluarganya selama si Bung Besar tinggal di kota yang pernah disebutnya bak berada di ujung dunia itu.

Hari ini, dalam peringatan Hari Lahir Pancasila di Ende yang dijadwalkan dihadiri Presiden Joko Widodo, Nocent bertugas menceritakan kembali Soekarno, Ende, dan Pancasila.

”Ende adalah rahim pengandung lima butir Pancasila dan Jakarta adalah tempat kelahirannya. Pancasila benar-benar tergali di Ende dan menjadi milik semua orang Indonesia,” katanya.

Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Antonius Benny Susetyo membenarkan, di Ende-lah Pancasila dikandung. ”Bung Hatta mengatakan, saat dibuang ke Ende, Bung Karno mengalami perasaan sedih dan merasa dijauhkan dari masyarakat. Tetapi, dari Ende, lewat gerakan dengan pater-pater, Soekarno bangkit, Soekarno tercerahkan,” ujarnya.

Bung Karno, kata Nocent, sejatinya bakal diasingkan ke Bajawa. Bajawa merupakan ibu kota Ngada, kabupaten yang juga berada di Pulau Flores. Namun, Bung Karno mengajukan protes. Sebab, di Ende saja dia sudah seperti di ujung dunia. Jauh dari sahabatnya di Jakarta. Sepi.

Tentu Ende sekarang tak sama dengan yang dulu. Dalam buku biografi, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat, yang ditulis Cindy Adams, presiden pertama Republik Indonesia itu menceritakan bahwa saat itu jumlah penduduk Ende hanya sekitar 5.000 jiwa. Tetapi majemuk. Sekarang, berdasar sensus 2020, Ende dihuni sekitar 270 ribu jiwa. Juga tetap majemuk, baik dari sisi etnisitas maupun latar belakang agama yang dipeluk.

Di kabupaten yang berbatasan dengan Laut Flores di bagian utara dan Laut Sawu di sisi selatan tersebut, Soekarno ditemani istrinya, Inggit Garnasih, mertuanya, Amsi, serta kedua anak angkatnya, Ratna dan Kartika.

Belanda tak menyediakan kediaman untuk tokoh pergerakan itu. Soekarno pun memilih mencari sendiri rumah yang akan ditinggali. Dia hanya diberi waktu empat hari untuk melakukannya. Selama durasi itu, Soekarno dan keluarga tinggal di kamar yang sebenarnya ruang pemeriksaan. ”Soekarno lalu jalan-jalan dan melihat satu rumah yang tidak ditempati orang,” ungkapnya.

Soekarno lantas menyampaikan keinginannya untuk tinggal kepada pemilik rumah itu, seorang haji, Abdullah Ambuwaru. Abdullah mempersilakan.

Pada masa pemerintahan Bupati Don Bosco M. Wangge (2009–2014), rumah pengasingan Bung Karno dipugar. Ini juga tak terlepas dari prakarsa Wakil Presiden Boediono.

”Waktu kampanye (pemilihan umum presiden dan wakil presiden) 2009, Pak Boediono ke Ende dan masyarakat mengusulkan pemugaran. Dia pun mengiyakan,” katanya.

Setelah terpilih, Boediono mengumpulkan para tokoh Flores di Jakarta. Lalu, dibentuk Yayasan Ende Flores. Pada 2011, pemugaran rumah pengasingan itu pun dikerjakan.

Dua tahun kemudian, tepatnya 1 Juni, Wapres Boediono berkunjung ke Ende untuk meresmikan situs yang sudah dipugar. Salah satu prasasti yang ditandatangani menyatakan, di bawah pohon sukun itulah, Soekarno menemukan butir-butir falsafah negara.

Warga Ende dan sekitarnya merayakan Hari Lahir Pancasila dengan berbagai rangkaian kegiatan. Pada 28 Mei lalu, misalnya, diadakan parade laut dan napak tilas yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.

Menurut Benny, Pancasila harus menjadi habitus bangsa. Pancasila harus diimplementasikan dalam pendidikan. ”Tapi, itu bukan hanya tanggung jawab sekolah. Pancasila juga perlu diaktualisasikan dalam keluarga,” tuturnya.

Di Ende, Rabu (1/6) kemarin, pohon sukun itu menjadi saksi penceritaan kembali bagaimana kelima nilai luhur Pancasila direnungkan. Tentu tak ada Soekarno lagi. Pohonnya juga bukan yang dulu. Namun, yang pasti, kalau pendahulunya dulu hanya berbatang satu, si pohon sukun penerus ini punya lima batang. (*/c14/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: