Warga di Daerah Rawan Bencana Harus Waspada dan Tetap Jaga Lingkungan

By

Daerah resapan air yang ada di samping Hotel Musi Entrop dan kini sudah ditimbun. Semakin sempitnya daerah resapan ini, dikhawatirkan akan berdampak banjir jika terjadi hujan deras di lingkungan Komplek SMAN 4 Entrop, Selasa (27/9)kemarin. (FOTO: Priyadi/Cepos)

Persiapan BPBD Kota Jayapura Mengantisipasi  Cuaca Ekstrem dan Bencana di Akhir Tahun

Memasuki bulan Oktober hingga Januari 2023 masyarakat diminta untuk tetap waspada dan hati-hati, karena dalam rentang bulan tersebut, intensitas curah hujan diperkirakan meningkat. Lantas seperti apa persiapan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jayapura mengantisipasi banjir dan longsor yang mungkin terjadi?

Laporan: Priyadi_Jayapura

Untuk mengantisipasi terjadinya bencana alam, baik banjir dan longsor di tengah curah hujan yang tinggi, Pemerintah Kota Jayapura melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jayapura telah melakukan berbagai upaya. 

  Salah satunya dengan melakukan sosialiasi kepada masyarakat di 5 distrik, terutama di daerah rawan bencana, maupun yagn selama ini jadi langganan banjir. Untuk meminimalisir dampak bencana, BPBD juga  kerjasama dengan Dinas PUPR PKP Kota Jayapura dalam melakukan pengerukan sungai dan perampasan pohon.

 Tak hanya itu,  kerjasama juga dilakukan dengan DLHK dalam menjaga kebersihan, kerjasama dengan BWS dalam pengerukan sungai, bekerjasama dengan Dinas PUPR Provinsi Papua dan BMKG Wilayah V Jayapura dalam melihat perkembangan cuaca serta stakeholder lainnnya bahkan dengan organisasi RAPI, ORARI dan lainnya.

   Kepala Pelaksana  BPBD Kota Jayapura Asep A.M.Khalid mengatakan, memang memasuki   Oktober hingga Januari 2023, pihaknya mengimbau masyarakat tetap waspada dan hati-hati. Terlebih daerah yang sering menjadi langganan banjir seperti komplek SMAN 4 Entrop, depan CV Thomas, Daerah Dok V Atas, Daerah Organda, depan Saga Abepura, Daerah Otonom Kotaraja dan lainnya, sedangkan daerah rawan longsor ada di daerah APO, Dok V Atas, Angkasa, Polimak, belakang eks Pasar Ampera  dan sejumlah titik daerah rawan lainnya.

   Untuk itu, BPDB Kota Jayapura  melakukan upaya mitigasi di 5 distrik yang rawan longsor, kebakaran dan lainnya. BPBD melibatkan para ketua RT/RW, pemuda dan lainnya, mereka diberikan pelatihan bagaimana bisa mencegah dan meminimalisir kejadian itu.

  “Kita tahu Kota Jayapura adalah langganan banjir setiap musim penghujan, makanya kita berikan pelatihan untuk mengatisipasi musibah banjir dan tanah longsor, yakni masyarakat diminta tetap memperhatikan lingkungan, jangan lagi ada yang membangun di daerah resapan air di hutang lindung, area bantaran sungai, dan daerah rawan longsor. Ini adalah hal yang harus dilakukan maka dari itu peran serta ketua RT/RW harus bisa berfungsi dengan maksimal,” katanya.

   Selain itu, bagi masyarakat yang sudah tinggal di daerah rawan longsor dan banjir, diminta untuk tetap waspada dan hati-hati. Jika memang terjadi hujan deras diminta agar bisa segera mengevakuasi diri ke tempat yang lebih aman sampai hujan benar-benar dipastikan sudah reda, karena jika masih tetap bertahan tinggal ditakutkan bisa longsor maka bisa membahayakan nyawa hingga meninggal dunia karena tertimbun longsoran.

   Oleh karena itu, masyarakat harus bisa menjadikan pelajaran sebelumnya. Jika memang musim penghujan dan terjadi hujan deras lama, maka mau tidak mau harus bisa mengevakuasi diri, termasuk masyarakat yang tinggal di lokasi rawan banjir. Meski tidak membahayakan nyawa, namun dampak banjir pasti barang-barang akan tenggelam. Jika itu barang elektronik maka akan rusak, sehingga masyarakat bisa diimbau menaruh barang elektronik, perkakas rumah tangga bisa diatur ditempat yang tinggi jiwa sewaktu-waktu banjir maka masih aman. 

  Biasanya daerah rawan banjir masyarakatnya pasti tahu caranya supaya rumahnya tidak kemasukan air dengan cara membuat penghalang di depan pintu atau penghalang air masuk jika air masuknya tidak tinggi, sehingga ini juga sebagai antisipasi yang tepat karena saat hujan deras air tidak masuk rumah.

  “Saya juga minta masyarakat menjaga lingkungan jangan buang sampah sembarangan terlebih jika ini bekas botol minuman karena bisa menyumbat drainase maupun sungai, sehingga air tidak lancar akhirnya air masuk komplek perumahan, jadi menjaga kebersihan itu penting,’’ujarnya.

 Asep juga minta kerjasamanya dengan dinas terkait supaya bisa membantu meminimalisir bencana dengan cara melakukan pengerukan sedimen sungai yang sudah tebal. Hal ini supaya saat hujan tidak mudah air meluap ke darat. Meraba ranting pohon atau pohon yang sudah lapuk supaya tidak roboh dan menimpa jaringan listrik bisa membuat padam listrik, atau jatuh ke jalan menggangu kemacetan lalu lintas.

  “Saya harap kerjasama semua pihak harus tetap dilakukan dengan baik dan bisa bekerja sesuai Tupoksinya sehingga daam mengatasi perubahan cuaca saat musim penghujan bisa diatasi dengan baik dan kita harus belajar dari pengalaman sebelumnya,’’ungkapnya

   Asep juga menambahkan, bagi nelayan atau masyarakat yang tinggal di pesisir pantai juga diminta waspada dan hati-hati khususnya jika pada saat musim penghujan pasti akan terjadi gelombang air laut yang tinggi. Oleh karena itu, masyarakat yang tinggal di pesisir pantai dan para nelayan harus bisa melihat perkembangan informasi cuaca dan gelombang air laut yang diupadete dari BMKG Wilayah V Jayapura, supaya tahu jangan sampai pada saat musim penghujan nelayan masih melaut padahal ombang tinggi tentu ini membahayakan.

   Sementara itu,  BMKG merilis kondisi cuaca beberapa bulan ke depan. Dimana berdasarkan kondisi atmosfer dari update data 20 September 2022 yang dirilis oleh BMKG, kondisi ENSO terpantau saat ini berada pada kondisi La Nina Moderate (-1.10) dan diprakirakana akan terus berlangsung hingga Desember 2022. 

  Kemudian kondisi Dipole Mode saat ini berada dalam kondisi IOD Negatif (-0.89) dan diprakirakan akan terus terjadi hingga Desember 2022. Kondisi suhu muka luat di wilayah Indonesia terpantau berada dalam kondisi hangat dan diprakirakan dalam kondisi hangat hingga November 2022.

   Untuk wilayah Papua suhu muka laut terpantau dalam kondisi hangat dan diprakirakan terus berlangsung hingga November 2022. Musim hujan diprakirakan masuk di bulan September – Oktober.  Puncak musim hujan diprakirakan akan terjadi di bulan Januari-Februari. Dengan kondisi atmosfer yang akan berpengaruh terhadap penambahan curah hujan hingga akhir tahun.    

   Hal ini perlu menjadi perhatian bagi masyarakat akan potensi adanya bencana hidrometeorologis seperti banjir dan tanah longsor serta diimbau untuk mengelola wilayah tempat tinggal untuk menghadapi potensi tersebut. Masyarakat juga dihimbau  untuk memperbaharui informasi cuaca dan iklim melalui kanal media sosial milik BMKG atau dapat mendapat informasi langsung di kantor BMKG terdekat.(*)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: