Warga Mengaku Resah Karena Suka Nyolong

By

Rahmad salah satu korban penganiayaan anggota TNI saat dirawat di RS Marthen Indey, Jumat (28/10) (FOTO: Elfira/Cepos)

Masuk ke Pos Tanpa Izin dan Mencuri, Bagaimana Jika yang Diambil Bukan Hanya Burung Tapi Senjata

JAYAPURA – Pihak Kopasus yang bermarkas dalam Pos Satgas Cartens di Jl Maleo Arso, Kabupaten Keerom akhirnya memberi klarifikasi terkait pemberitaan penganiayaan yang dialami tiga anak di bawah umur di Arso pada 27 Oktober lalu. Dari kasus ini disebutkan bahwa sudah 9 anggota yang menempati pos tersebut yang diperiksa dan hingga kini pihaknya masih mengikuti perkembangan.

 Cenderawasih Pos berhasil terhubung dengan  Sertu Solikin selaku Baintel yang juga menangani personel di pos tersebut. Ia menjelaskan bahwa pihaknya (Kopasus) bergabung dengan pihak Polri dengan status BKO Polri. Solikin menceritakan ikhwal terjadinya kasus tersebut. Ia menyampaikan bahwa sejatinya korban (Rahmad Paisei) ini memiliki kebiasaan yang kurang disukai warga karena suka ngutil. 

 Warga sendiri sudah berulang kali melapor ke orang tuanya  namun tidak bisa dilakukan pembinaan. Kasus pencurian yang diduga melibatkan korban terus terjadi. Tak hanya itu, menurut laporan, korban juga memiliki keterkaitan dengan kasus ganja. Sertu Solikin menjelaskan bahwa awalnya pada 26 Oktober 2022, anggota pos Statis Keerom kehilangan burung Kakatua yang diletakkan di halaman belakang.

 Lalu pada esoknya sekira pukul 02.00 WIT seorang anak bernama Lauren datang ke pos dengan membawa seekor burung nuri untuk dijual. Anggota lantas menayakan burung itu dapat darimana, dan hasil interogasi Lauren mengaku baru mencurinya di kios depan jalur Arso 2. Dua jam kemudian anggota jaga pos dan Lauren mendatangi rumah yang dimaksud dan ternyata pemilik rumah menyatakan betul ada burung nuri yang hilang. 

 Setelah itu Lauren dibawa kembali menuju ke pos dan diinterogasi dan mengakui soal adanya burung Kakak tua yang hilang. Tak lama pukul 06.30 WIT anggota Pos Damai Cartenz bersama Lauren menuju ke rumah temannya yang dikatakan menjual burung. Disini tiga orang termasuk korban ikut dibawa ke pos. 

 “Ketiganya kemudian diinterogasi  dan Rahmad awalnya tidak mengaku bahwa dia yang mencuri namun akhirnya ia pun membenarkan bahwa ia dan rekannya, Bastian yang masuk ke pos dan mencuri saat subuh,” beber Solikin via telepon, Minggu (30/10).

 Nantinya pukul 08.30 WIT Lauren mengatakan bahwa burung yang dicuri sudah dijual ke pak Budi pemiliki kios Sumber Rezeki Arso 2 namun hasil konfirmasi ternyata tidak benar jika burung tersebut dijual kepada Budi. 

 Disini akhirnya Rahmat mengatakan bahwa burung itu dijual oleh Bastian namun karena keterangan berubah ubah akhirnya diketahui jika burung Kakak Tua ini telah dijual ke Abe. Malamnya korban masih sempat makan dan mandi kemudian ganti baju di pos. Namun setelah makan malam sekira pukul 22. 30 WIT ketika hendak keluar dari dapur Rahmat  terlihat mengambil pisau namun ini dilumpuhkan oleh anggota pos. 

 “Kami akui selama melakukan interogasi anggota menggunakan selang untuk menghukum, tapi bukan secara fisik melainkan menggunakan selang. Dan sebagai catatan bahwa kami sempat menemui orang tua Lauren yang juga menjadi pelaku dan itu diakui oleh ayahnya bahwa ia (Lauren) sudah beberapa kali berurusan dengan Polisi sampai orang tuanya seperti enggan mengurus lagi karena terlalu capek,” beber Solikin. 

 Namun karena kasus ini telah mencuat kata Solikin pihaknya akan mengikuti prosesnya. Sementara dari beberapa pengakuan warga yang divideokan disampaikan bahwa korban selama ini suka ngutil dan sudah berkali – kali disampaikan kepada orang tuanya namun tidak bisa diselesaikan sehingga warga semakin kesal. “Kami paham bagaimana cara menginterogasi dan memberi sanksi. Kami tidak memukul tapi menggunakan selang,” tambahnya. 

 Diakui sebagai satuan yang menjaga daerah merah tentu ada kekesalan ketika mengetahui ada orang asing yang berhasil masuk ke pos tanpa diketahui. Dijelaskan bahwa jarak rumah korban dengan pos hanya berkisar 300 meter.  Posisinya di belakang pos dan dihari kejadian itu, korban bersama rekannya sempat masuk kemudian mengambil burung Kakak Tua. 

 “Di dalam pos ada senjata baik laras pendek  maupun laras panjang. Kalau sudah berhasil masuk berarti ada ancaman. Bagi kami satu langkah sudah masuk maka itu sudah menganggu suasana pos dan pasti ada tujuan yang direncanakan. Ini yang membuat teman – teman bereaksi,” bebernya.

 Kekhawatiran lainnya adalah jangan sampai yang diambil justru bukan hanya burung tetapi peralatan  semisal senjata karena bisa menjadi masalah yang lebih besar. 

 “Jadi seperti itu, masuk ke pos tanpa izin dan mencuri,” imbuhnya. “Kami juga bertanya ke masyarakat soal catatan adik (korban) ini ternyata  masyarakat sudah lama resah karena selain suka ngutil, diduga korban ini terlibat peredaran ganja. Pihak Koramil juga sudah 2 kali menangkap korban dimana waktu itu  ngutil mesin Sanyo,” pungkasnya.

 Saat ini dikatakan pihaknya masih mengikuti bagaimana dan apakah semua pemeriksaan sesuai prosedur atau tidak ini juga akan dilaporkan ke pimpinan. “Kami lihat  tidak ada surat panggilan,”  Tutupnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: