Beranda UTAMA PAPUA Warga Sampaikan Berbagai Alasan

Warga Sampaikan Berbagai Alasan

0
HENTIKAN: Petugas di Pos Sekat Imbi Simpang Bank Papua saat memberhentikan truk yang mengangkut bahan pangan untuk diberi imbauan pada hari pertama pembatasan waktu operasional dan aktivitas warga di Kota Jayapura, Senin (18/5). (FOTO: Elfira/Cepos)

Hari Pertama Pemberlakukan Pembatasan Waktu, Warga Kurang Patuh

JAYAPURA-Berbagai alasan disampaikan warga saat melintas dan diberhentikan petugas gabungan di Pos Sekat yang didirikan di 16 titik di wilayah Kota Jayapura.

Saat diberhentikan petugas gabungan lantaran telah melewati batas waktu beraktivitas di luar rumah pada pukul 14.00 WIT, ada yang mengaku baru pulang kerja dan rapat. Ada juga yang mengaku dari rumah teman. Namun ada juga yang hanya bisa tersenyum ketika terjaring dalam sweeping aparat gabungan dihari pertama pembatasan waktu di Kota Jayapura, Senin (18/5).

Dari pantauan Cenderawasih Pos, pukul 14:00 WIT., masih banyak kendaraan yang lalu lalang di jalan raya. Padahal sudah ditetapkan oleh Pemprov Papua dan Pemkot Jayapura bahwa setelah pukul 14.00 WIT., tidak ada lagi aktivitas warga.

Kapolresta Jayapura Kota, AKBP. Gustav R Urbinas menyampaikan, hari pertama diberlakukannya pembatasan waktu, masih diberikan toleransi kepada warga, sembari mengimbau untuk mematuhi instruksi pemerintah baik itu surat edaran Gubernur  maupun intruksi Wali Kota Jayapura.

“Hari pertama kami masih berikan toleransi sembari menyesuaikan selama 3 hari kedepan. Namun setelah itu tepatnya Kamis (21/5), akan dilakukan penertiban total. Jadi hanya untuk yang dikecualikan yang bisa diberikan akses dengan catatan dibuktikan dengan id card ataupun surat tugas,” tegs Kapolresta Gustav Urbinas, kemarin (18/5).

Kedepan menurutnya, jika nanti terjebak maka risiko ditanggung masing-masing. Sebab, imbauan dan sosialisasi kerap dilakukan aparat secara langsung. Mulai dari imbauan, pemasangan stiker dan lainnya. “Sebelumnya kami sudah sosialisiasi  pembagian stiker media sosial dan lainnya,” tambahnya.

Sementara, Wakapolresta Jayapura Kota, Kompol Heru Hidayanto menyampaikan, hari pertama penerapan pembatasan waktu, masih banyak masyarakat yang malas tahu dengan situasi kendati sudah mengetahui adanya pembatasan waktu tersebut.

“Sebagian dari masyarakat kita, keras kepala dan malas tahu dengan keadaan. Padahal apa yang dilakukan saat ini untuk kebaikan bersama,” cercanya.

Untuk hari pertama pemberlakuan pembatasan waktu lanjut Wakapolresta, masih diberikan ampun. Artinya, masih diberikan kelonggaran. Namun setelah itu, akan diperketat pengawasannya termasuk memblokade jalan. 

Secara terpisah, Kabag Ops Polresta Jayapura Kota, Kompol Nursalam Saka menyampaikan, sebanyak 16 jalur di wilayah Kota Jayapura disekat dengan menerjunkan sebanyak 25 aparat gabungan. 

Adapun 16 jalur yang disekat yakni wilayah Abepura meliputi Pos PJR Wihara, Brimob Kotaraja, Simpang Winer, Lapangan Citra Trikora, Simpang Tanah Hitam. Wilayah Japsel meliputi, Simpang PTC Entrop, TL Hamadi Pantai, Pos Kampung Buton.

Distrik Jayapura Utara  meliputi, Simpang Bank Papua, Persimpangan Varian, Simpang Mandala. Wilayah Heram meliputi Batas Kota dan Persimpangan Zipur. Sementara Muara Tami meliputi Simpang Holtekam dan batas Kota Jayapura dan Kabupaten Keerom.

Selain 16 titik yang disekat, Polresta Jayapura Kota juga menempatkan 3 Pos Pengendali besar yang berlokasi di Lapangan Trikora, PTC Entrop dan Taman Imbi.

Kabag Ops Polresta Jayapura Kota Kompol Nursalam Saka menyampaikan, sebanyak 400 san personel gabungan yang dilibatkan dalam kegiatan ini. Dengan catatan, Pos induk beraktivitas selama satu kali  24 jam, sementara 16 titik yang disekat jam mainnya fleksibel.

“Sistem pengamanan mulai pukul 14:00 WIT, kita sudah stand bay di pos masing masing hingga pukul 21:00 WIT. Kita akan lihat perkembangan di lapangan, kalau sudah sepi kita akhiri kegiatannnya dan dilanjutkan dengan Patroli, bukan lagi penyekatan,” ucap mantan Kapolsek Jayapura Selatan ini.

Selain itu, anggota melakukan Patroli Mobile. Semisal masih ada kumpulan warga masyarakat atau masih ada aktivitas di pinggir jalan atau di tempat-tempat wisata maka dibubarkan.

Dengan adanya pembatasan waktu yang diberlakukan Senin (18/5), diharapkan adanya partisipasi dari masyarakat.

“Kalau tingkat partisipasi masyarakat tinggi terhadap pemberlakuan pembatasan waktu, saya pikir tidak perlu ada penyekatan. Hanya saja, hingga saat ini masyarakat masih  kurang disiplin, banyak yang tidak patuh dengan surat edaran ataupun intruksi pemerintah, sehingga dilaksanakan pembatasan waktu,” tuturnya.

Dirinya berharap masyarakat lebih patuh dan semakin sadar di tengah wabah ini, dengan jumlah pasien Covid-19 yang terus meningkat.

“Semua warga harus bersatu untuk melawan corona, sehingga wabah ini segera berakhir dengan cepat di papua, khususnya di Kota Jayapura,” pungkasnya. 

Di wilayah Distrik Abepura dan sekitarnya dari pantauan Cenderawasih Pos, petugas gabungan terlihat melakukan pemeriksaan di pos sekat yang didirikan. Petugas yang berada di pos sekat menanyakan alasan warga yang masih beraktivitas di atas pukul 14.00 WIT. Bagi warga yang maksud dan tujuannya tidak jelas, langsung diminta berbalik arah. 

Pembatasan aktivitas ini juga menyebabkan sejumlah ruas jalan utama atau jalan protokol di Distrik Abepura menjadi lengang setelah batas akhir aktivitas warga pukul 14.00 WIT. Terlihat hanya satu dua kendaraan yang melintas.  

Sementara itu, semangat  untuk menekan angka penularan Covid-19 di Kota Jayapura ternyata belum sepenuhnya didukung oleh masyarakat. 

Selain masih banyak yang  belum menaati physical distancing, ternyata masih banyak warga kota yang belum taat menggunakan masker. Mirisnya lagi ternyata ada yang menolak menggunakan masker sekalipun diberikan secara cuma – cuma.

 “Jadi tadi pagi kami membantu teman – teman PMI Mamta ikut membagikan masker. Ada banyak titik yang dijadikan sebaran termasuk di Pasar Mama-mama Papua,” kata Kelvin salah satu anggota Rumah Bakau Jayapura, Senin (18/5).

Dikatakan, pihaknya lebih selektif membagikan masker mengingat sudah banyak yang memiliki masker namun masih ada juga yang belum punya sama sekali. “Yang kami lihat tidak punya ini yang kami bagikan,” kata Kelvin.

Hanya sayangnya menurut mahasiswa Uncen ini ternyata ada yang menolak menerima masker meski belum memiliki. “Kami lihat ada tukang parkir yang tidak menggunakan masker lalu kami tanya baik – baik apakah dia sudah punya masker tapi hanya dijawab tidak dan saat kami coba kasi ternyata dia menolak dan pergi. Kami bingung maksudnya,” jelasnya. 

Desty  juga membenarkan hal tersebut dimana pihak PMI Mamta membagikan secara gratis agar masyarakat kota seragam semua tertib namun masih ada yang menolak. Bahkan ada juga yang terang – terangan meminta bahan makanan. 

 “Kalau menolak dengan alasan sudah punya itu kami bisa pahami tapi ini jelas – jelas tidak pakai masker dan bilang tidak punya tapi menolak diberi,” ceritanya. 

Tak hanya itu banyak yang sudah menerima ternyata tetap enggan dipakai. “Kami sudah bagikan karena melihat ada yang tak punya sama sekali tapi saat kembali ternyata maskernya tidak dipakai, miris juga,” cerita Roni. (fia/bet/ade/nat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here