Waspadai Gejala Menopause

By

Narasumber Dr.H Suhartono, Sp.OG(K) Sub Sp.Fer (tengah) dan Dr. Gracia Y.V.Daimboa SpPD., saat mendengarkan pertanyaan dari peserta seminar sekaligus sosialisasi tentang menopuase dengan tema Kupas Tuntas Masalah Menopause digelar di  lantai 2 Poliklinik  RSUD Jayapura,  Kamis (20/10). (FOTO:  Istimewa)

JAYAPURA-Memperingati hari Menopause sedunia yang jatuh pada 18 Oktober 2022 lalu sekaligus hari jadi Ikatan Dokter Indonesia ke 72, IDI Kota Jayapura bersama Perkumpulan Menopause Indonesia Cabang Papua dan Perkumpulan Obsetri dan Ginekolodi Indonesia, Papua menggelar seminar dan sosialisasi terkait manopuse. Kegiatan yang dilakukan di Poliklinik  RSUD Jayapura ini diikuti sekira 100 peserta baik online maupun offline.

 Ketua IDI Kota Jayapura, Dr. H. Suhartono, Sp.OG(K) Sub Sp.Fer., menjelaskan bahwa kegiatan ini untuk mengingatkan warga terkait penyakit yang akan menyentuh kaum berusia 45 tahun ke atas. 

Di Indonesia sendiri menurut dr. Hartono biasa terjadi pada wanita berusia 52 tahun. Menopause sendiri adalah berakhirnya siklus menstruasi secara alami yang biasanya terjadi saat wanita memasuki usia 45–55 tahun. Seorang wanita bisa dikatakan sudah menopause bila tidak lagi mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut.

 Hanya menopause tidak sekedar ditandai dengan berhentinya menstruasi tetapi wanita yang telah menopause juga mengalami banyak perubahan, mulai dari penampilan fisik, kondisi psikologis, hingga menyangkut hasrat seksual. 

Selain itu, wanita yang sudah menopause juga tidak bisa hamil lagi. “Jadi kami sampaikan bahwa jika ada keluhan sebaiknya ke rumah sakit untuk mendapatkan bantuan secara hormonal atau non hormonal sebab dampaknya bisa pada keluhan kelainan motoric atau sensorik dan pastinya hubungan dalam rumah tangga tidak nyaman dan labil,” beber dr. Hartono usai kegiatan, Kamis (20/10).  

 Dampak yang paling sering terjadi adalah emosi yang tak stabil. Menopause sendiri kata Hartono merupakan proses alami yang terjadi saat seorang wanita yang bertambah tua. Seiring usia bertambah, indung telur akan makin sedikit memproduksi hormon kewanitaan. Akibatnya, indung telur tidak lagi melepaskan sel telur dan menstruasi akan berhenti. “Untuk mengobati ini  bisa dengan cara obat dan verbal juga bisa,” jelasnya.  

 Untuk penyebabnya sendiri dikatakan bisa karena gaa hidup, pola makan, pola pikir dan tingkah laku. Penyakit usia beranjak tua ini biasa disertai dengan gejala berupa  perubahan siklus menstruasi, kadang menstruasi menjadi tidak teratur, kadang terlambat atau lebih awal dari biasanya. Hanya kata Hartono umumnya, menopause adalah kondisi alami yang tidak memerlukan perawatan lebih lanjut. Namun, apabila gejala menopause sangat mengganggu, dokter akan menyarankan beberapa pilihan pengobatan yang dapat membantu meredakan gejala menopause.

 “Bisa dilakukan terapi pengganti hormon estrogen,” kata Hartono. Ini bentuknya terapi yang diberikan pada wanita yang sudah menjalani operasi pengangkatan Rahim termasuk terapi kombinasi (estrogen dan progesteron) yaitu terapi yang diberikan pada wanita yang mengalami menopause secara alami. Namun dijelaskan bahwa ada upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah gejala menopause agar tidak bertambah parah yaitu dengan menghindari makanan pedas dan minuman panas, berkafein, atau beralkohol, kemudian menciptakan lingkungan rumah yang sejuk dan nyaman maupun menerapkan teknik relaksasi, antara lain dengan meditasi. “Intinya kalau ada keluhan ya bisa langsung dikonsultasikan,” tutupnya. (ade/nat) 

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: